Negeri Abadi


Saudaraku tercinta ! Bagaimanakah kita dibanding denga mereka ( para salaf) ????

Dari Anas bin ‘Iyadh diriwayatkan bahwa ia menceritakan : ” Aku pernah melihat Shofwan bin Salim . Kalau seandainya dikatakan kepadanya : ‘Besok hari kiamat,’ niscaya tidak ada lagi ibadah lain yang bisa ia tambahkan dari yang biasa ia lakukan (saking banyaknya) .  Bagaimanakah dengan jawaban kita seandainya dihadapkan dengan pertanyaan yang sama ???

Kita menjadi heran melihat kondisi kita sekarang ini. Dunia sudah berpaling dari diri kita sekarang ini,sementara akherat sedang menuju ke arah kita. Tetapi kita justru menyibukkan diri dengan “sesuatu” yang menjauhi kita dan berpaling dari “sesuatu” yang sedang menghampiri kita. Seolah-olah kita tidak akan pernah sampai ke alam akhirat dan seolah-olah kita tidak akan pernah singgah di sana .

‘Umar bin Abdul Aziz pernah menyatakan dalam sebuah khotbah : ” Dunia bukanlah kediaman abadi kalian. Alloh telah menetapkan dunia sebagai alam yang fana. Alloh telah menetapkan kesulitan bagi penghuni dunia selama di dunia. Berapa banyak bangunan permanen yang tak lama saja sudah hancur. Berapa banyak orang yang hidup berkecukupan tak lama saja kembali sengsara. Kaum muslimin yang dimuliakan Alloh,persiapkanlah perbekalan terbaik yang kalian miliki untuk mengarungiperjalanan. Berbekallah, dan bekal terbaik adalah ketakwaan. Bila dunia ini sudah pasti bukanlah kediaman dan tempat tinggal sesungguhnya bagi seorang mukmin, maka seyogianya seorang mukmin itu memiliki salah satu dari dua kondisi : Bisa bersikap sebagai seorang asing di negeri asing, sehingga cita-citanya hanyalah berbekal untuk pulang ke negerinya. Atau bersikap sebagai seorang musyafir yang sama sekali tidak tinggal menetap, bahkan siang dan malam adalah perjalanan ke kampung halaman .

Umat manusia sekarang ini bergelimang dan berlomba-lomba menggapai dunia ini, sementara sebagian dari dunianya hilang, bahkan banyak diantara mereka melupakan anak-anaknya. Kedengkian merajalela,sikap hasad semakin membahayakan, sikap dengki menyebar luas dan sikap benci semakin merata.

Sekarang marilah kita cermati bagaimana Al Fudhoil memandang dunia ini , melalui ucapan beliau : ” Hati kita tidak akan selamat, sebelum kita tidak memperdulikan lagi siapa saja yang memakan harta dunia ini ” .

Dimanakah posisi kita sekarang ini dibanding dengan pandangan Al Fudhoil tersebut ? Bukankah sumber terbesar penyebab kedengkian, iri , hasad dan benci diantara kita karena berebut memakan harta dunia ini ?

Saudaraku tercinta !

“Arungilah dunia ini dengan perbekalan seadanya, karena tak akan lama lagi engkau akan meninggalkannya.

Tutuplah matamu dari dunia dan segala gemerlapan penggilanya,

Celaki kelopak matamu dengan wewangian dari alam sana.

Perangilah dirimu untuk tidak terpengaruh segala kelezatan  dunia, kareana memerangi hawa nafsu termasuk jihad.

Dunia hanyalah tempat bermain-main dan tempat godaan semata, sesungguhnya istana para penggila dunia akan musnah binasa “

Bilal bin Sa’d pernah mengingatkan kita akan tempat kembali dan kampung halaman kita. Beliau berkata : ” Hai orang-orang yang bertakwa !!! Sesungguhnya kalian diciptakan bukan untuk dunia yang fana ini, namun kalian akan dipindahkan ke alam lain, sebagaimana kalian dulu dipindahkan dari tulang sulbi menuju rahim, lalu dari rahim ke dunia ini, baru dari dunia ke alam kubur, setelah itu dari alam kubur ke padang mahsyar. Dari padang mahsyar itulah kalian akan dipindahkan ke surga atau ke neraka .”

Al Hasan berkata :” Hendaknya kalian mewaspadai pekerjaan dunia yang menyibukkan. Karena dunia ini banyak menyibukkan. Setiapkali seseorang membuka dirinya untuk kesibukan dunia, niscaya pintu kesibukan itu akan membuka sepuluh pintu kesibukan lainnya.”

Berapa seringkah kita berkata ” longgar” untuk urusan dunia ini ??? Dan berapa seringkah kita berkata “sibuk” untuk akhirat kita ??? Sudahkah proporsional kah jawaban kita terhadap kedua pertanyaan tersebut ???

Ibnu Samak menandaskan :” Barangsiapa meneguk manisnya dunia karena cenderung kepadanya, pasti akan meneguk pahitnya akhirat karena ia menjauhinya.”

“Ketahuilah bahwa seseorang tidak mungkin abadi selamanya,

Suatu masa dia akan menjadi legenda bagi orang lain “

Sumber : buku “Dunia Kesenangan yang Menipu ” terjemahan dari  “Ad Dunya Zhillun Zaail” karya Abdul Malik bin Muhammad Al Qosim.

Mengubah Limbah Jadi Berkah ?



Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s