Kebolehan dalam syariat ALLAH saat berhari-raya


Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali

Diriwayatkan dari Aisyah radliyalahu ‘anha, ia berkata (yang artinya) : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku sedangkan di sisiku ada dua anak perempuan kecil yang sedang bernyanyi[1] dengan nyanyian Bu’ats [2]. Lalu beliau berbaring (bersandar di atas lengannya) di tempat tidur dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Masuklah Abu Bakar, lalu dia menghardikku dan berkata : ‘Suara syaitan di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam !?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menghadap ke Abu Bakar seraya berkata :’Biarkan kedua anak perempuan itu’. Ketika ia telah lalai, aku memberi isyarat dengan mata kepada dua anak itu maka merekapun keluar”.

Dalam riwayat lain : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Wahai Abu Bakar, setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita”. [Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari 949, 952, 2097, 3530, 3931. Diriwayatkan juga oleh Muslim 892. Ahmad 6/134 dan Ibnu Majah 1898].

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata : “Dalam hadits ini ada beberapa faedah : Disyariatkan untuk memberikan kelapangan kepada keluarga pada hari-hari raya untuk melakukan berbagai hal yang dapat menyampaikan mereka pada kesenangan jiwa dan istirahatnya tubuh dari beban ibadah. Dan sesungguhnya berpaling dari hal itu lebih utama. Dalam hadits ini juga menunjukkan bahwa menampakkan kegembiraan pada hari-hari raya merupakan syi’ar agama.[3 ]

Footnote :
1. Dalam riwayat lain ada lafadh :(“dan keduanya bukanlah penyanyi”). lihat “Syarhu Muslim” (6/182) oleh An-Nawawi.
2. Berkata Ibnul Atsir dalam An Nihayah 1/139 ” Suatu hari yang masyhur, dahulu terjadi peperangan antara al Aus dan Al Khazraj. Dan Bu’aats nama sebuah benteng milik bani Aus.”

Imam Al-Baghawi dalam “Syarhus Sunnah” (4/322) mengatakan : “Bu’ats[ ], adalah hari yang terkenal di antara hari-harinya bangsa Arab. Pada hari itu suku Aus mendapatkan kemenangan yang besar dalam peperangan dengan suku Khazraj. Peperangan antara kedua suku ini berlangsung selama 120 tahun sampai datang Islam. Syair yang didendangkan oleh kedua anak perempuan itu berisi penggambaran (tentang) peperangan dan keberanian serta menyinggung upaya untuk membantu tegaknya perkara agama. Adapun nyanyian yang berisi kekejian, pengakuan berbuat haram dan menampakkan kemungkaran dengan terang-terangan melalui ucapan, adalah termasuk nyanyian yang dilarang. Tidak mungkin nyanyian seperti itu yang di dendangkan di hadapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dilalaikan untuk mengingkarinya. Sabda beliau : “Ini adalah hari raya kita”, beliau mengemukakan alasan dari Aisyah bahwa menampakkan kegembiraan pada dua hari raya merupakan syiar (slogan) agama ini, dan tidaklah hari raya itu seperti hari-hari lain”. [Selesai ucapan Imam Al-Baghawi].

3. Fathul Bari (2/443). Saya telah menulis sebuah risalah tentang hukum duf (rebana). Majalah Al-Mujtama Al-Kuwaitiyah yang terbit tanggal 15 Ramadhan 1402 H., yang memuat suatu bagian tentangnya. Apabila ALLAH memberi keluasan umur, maka akan saya bahasa lebih luas dan saya sebarkan teresendiri, dalam sebuah kitab yang rinci berjudul “Al-Jawabus Sadid ‘ala Man Sa’ala an Hukmid Dufuf wal Anasyid”, semoga Allah memudahkan penyelesaian kitab tersebut dan penerbitannya.

Sumber : www.salafy.or.id

PERLU  DIBACA  JUGA ....

Rahmat Allah bagi umat Islam dengan Dua Hari Raya (Iedul Fithri & Adha)
Definisi dan makna Hari Raya ‘Id’
Dzikir-dzikir Syar’i di Iedhul Fithri dan Adha
Berpenampilan indah di hari raya Ied
Sholat Ied hukumnya Fardlu ‘Ain (wajib)
Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi di Hari Raya
Sunnahnya sholat Ied di tanah lapang

Iklan

3 responses to “Kebolehan dalam syariat ALLAH saat berhari-raya

  1. Ping-balik: Puasanya Seorang Musafir [Penting Bagi yang Ingin Mudik] | Akhirat itu Lebih BAIK dan Lebih KEKAL

  2. Ping-balik: Bila Shalat ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at | Akhirat itu Lebih BAIK dan Lebih KEKAL

  3. Ping-balik: Bingkisan Istimewa Menjelang Idul Fithri (Zakat fitri & Iedul Fitri) | Akhirat itu Lebih BAIK dan Lebih KEKAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s